
Thx yuPh uDa mAu mamPiR :) Lam kEnaL..
18/03/2009 at 10:15 AM (Artikel)

^_^ mEndidiK dEnGan cInTa ^_^
21/03/2009 at 4:27 AM (Artikel)
Jakarta, Belum lama ini, bangsa kita kedatangan tamu seorang gadis Korea. Ia bernama Hee Ah Lee. Gadis ini terlahir hanya dengan empat jari. Dua jari di kanan, dua jari di kiri. Gadis yang terlahir 09 Juli 1985 ini, menderita lobster claw syndrome. Kakinyapun hanya sampai lutut. Bukan hanya itu, gadis Korea ia juga menderita keterbelakangan mental. Ketika ia terlahir, semua keluarga besarnya menjauh. Namun sang Ibu tetap mencintainya dengan sepenuh hati.
Hasilnya, gadis berusia 22 tahun ini telah menjadi pianis dunia. Gadis anak seorang perawat ini, telah mengeluarkan album bertitel ”Hee-ah a pianist with four finger.” Dia juga sudah melakukan konser di berbagai negara. Ia melalangbuana ke Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Kanada, China, Singapura dan tentu Indonesia. Gadis yang selalu didampingi ibunya ini juga telah diangkat sebagai warga kehormatan Seoul.
Sebagian besar dari kita pasti memiliki anak yang lebih sehat dan normal dibandingkan Hee Ah Lee. Sepatutnyalah prestasi yang diraih putra-putri kita tak boleh kalah dengan gadis Korea itu. Hal itu bisa terwujud bila sang buah hati kita memperoleh perhatian sepenuh cinta.
Didiklah anak dengan cinta. Mencintai sang buah hati berarti kita melakukan setidaknya lima hal. Pertama, membantu menemukan kekuatan dalam dirinya. Kedua, menunjukkan apa yang mampu dia raih. Ketiga, turut membangun kepercayaan dirinya. Keempat, memberikan dukungan dan semangat. Kelima, selalu ada ketiga dia membutuhkan.
Setiap anak terlahir dengan memiliki kelebihan masing-masing. Kita harus membantu anak kita mampu menemukan kekuatan yang ada di dalam dirinya. Pendampingan dan pendidikan selanjutnya disesuaikan dengan kekuatan utama yang ada di dalam diri mereka.
Ibunda Hee Ah Lee, tahu berbagai keterbatasan dan kekurangan yang dimiliki anaknya. Namun ia juga melihat ada satu kelebihan yang dimiliki oleh anaknya, yakni kesukaannya bermain piano. Kelebihan itulah yang kemudian terus diasah. Dia datangkan guru piano sesuai dengan kebutuhan anaknya. Lima guru piano yang berbeda pernah mendamping Hee Ah Lee.
Dengan kelebihan yang dimiliki, sang anak mampu meraih banyak hal. Tunjukkanlah apa-apa yang mampu dia raih dan gapai. Selain itu, sang anak juga dihadapkan pada banyak pilihan tentang masa depannya. Bila tidak kita tunjukkan arah yang akan dia tempuh sesuai dengan kekuatan yang dimilikinya, dia bisa salah arah. Sebagai orang tua kita harus mampu menunjukkan berbagai alternatif yang mampu dia raih dalam perjalanan hidupnya.
Kepercayaan diri anak kita juga dapat tumbuh dengan pesat jika kita memberinya kepercayaan disertai tanggung jawab yang sesuai dengan usianya. Memujinya jika ia berhasil melakukan sesuatu meskipun tampak remeh dimata kita. Tidak mencelanya jika ia ”gagal” melakukan sesuatu.
Sebagai seorang tua, kita tak boleh memberikan banyak larangan atau pantangan yang justeru akan mengahambat kepercayaan dirinya. Jangan biarkan potensi dirinya tidak muncul justeru karena terhambat dengan batasan-batasan yang kita buat. Biarkan anak kita berkreasi seluas-luasnya selama tidak menjadikan mereka melanggar norma-norma dari Sang Maha Tahu.
Hee Ah Lee pernah mogok tidak mau berlatih piano. Ia merasa tidak mampu memainkan piano dengan baik. Namun sang ibu terus mendampinginya dengan penuh kesabaran. Sang ibu tetap mengajak ia bicara walau mungkin Hee Ah Lee tidak mengerti apa yang dimaksud ibunya. Ibunya tak ingin, sang buah hati frustasi dan patah semangat. Ibunda Hee Ah Lee menunjukkan cintanya dengan tulus, salah satunya dengan terus menerus membangun kepercayaan diri Hee Ah Lee.
Keterangan Penulis:
Jamil Azzaini adalah Inspirator Sukses Mulia, Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.
>>kEsaKsiAn mAtI suRi<<
19/03/2009 at 9:21 AM (Artikel)
Pengalaman mati suri seperti yang dialami Aslina,telah pula dirasakan banyak orang. Seorang peneliti dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Virginia Dr Raymond A Moody pernah meneliti fenomena ini.
Hasilnya orang mati suri rata-rata memiliki pengalaman yang hampir sama. Masuk lorong waktu dan ingin dikembalikan ke dunia.
Berikut catatan Riau Pos yang turut serta mendengarkan kesaksian Aslina dalam temu Alumni ESQ (emotional, spiritual,quotient) Ahad (24/9) di Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru.
Aslina adalah warga Bengkalis yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri.
Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan
penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah yatim.
Sejak kecil cobaan telah datang kepada dirinya.
Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan racun. Tersebab itu ia
menderita selama tiga tahun. Pada umur 20 tahun ia terkena gondok(hipertiroid).Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada
jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus
2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit Mahkota Medical Center (MMC) Melaka Malaysia. Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi.
”Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,’ ’ jelas Rustam.Oleh karena itu Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah.Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina kembali ke Mahkota sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya sesak.Lalu ia dibawa
ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. ”Aslina seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut, red). Lalu saya ajarkan kalimat thoyyibah dan
syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas
terakhir”, ungkapnya. Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina memberikan kesaksiaanya.
”Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat,calon penghuni kubur,” begitu ia mengawali kesaksiaanya setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa ia juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman, amal dan ketakwaan sebelum mati datang. ”Saya telah merasakan mati,” ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit
mati itu.
Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi.
”Terasa malaikat mencabut (nyawa, red) dari kaki kanan saya,” tambahnya.
Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat thoyibah.”Saat di ujung napas, saya berzikir,” ujarnya.”Sungguh sakitnya, Pak,Bu,”ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ Pekanbaru.
Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di
sekelilingnya ada dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang
terbujur.Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan Assalaimualaikum kepada ruh Aslina. ”Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot,gemetar,” ujar Aslina mencerita pengalaman matinya.Lalu malaikat itu bertanya: ”siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana
kiblatmu dan siapa nama orangtuamu.” Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar.Lalu ia dibawa ke alam barzah. ”Tak ada teman kecuali amal,” tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau.
Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya
berkudis, badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk.Mungkin sosok
itulah adalah amal buruk dari orang tersebut.
Aslina melanjutkan. ”Bapak, Ibu, ingatlah mati,”sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput.
Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh dua
orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan ayahnya.
Lalu ia memanggil malaikat itu dengan ”Ayah”.”Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan ayah saya,” tanyanya.Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun.Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: ”Wahai ayah, janji saya telah sampai.” Mendengar itu ayah saya saya menangis.Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. ”Pulanglah kerumah, kasihan adik-adikmu. ” ruh Aslina pun menjawab.”Saya tak bisa pulang, karena janji telah sampai”.
Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat itubenar-benar ada.
”Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,” ujarnya bak seorang pendakwah.
Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya.Ayahnya tersebut menunduk.
Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi.Lalu ruh Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut,disebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh
Aslina bertanya kepada perempuan itu. ”Siapa kamu?” lalu perempuan itu menjawab.”Akulah (amal) kamu.”
Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa.
Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton,
tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya menjijikkan.
Ruh Aslina bertanya kepada amalnya.”Siapa manusia ini?” Amal Aslina menjawab orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang.
Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut.Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat bahkan tak bisa mengucapkan dunia kalimat syahadat ketika di dunia.
Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke
tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina.Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain.
Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan,
setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang menolongnya.Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan dijawab orang
tersebut adalah orang juga suka membunuh.
Tampak pula orang berkepala babi dan berbadan babi.Orang tersebut adalah orang yang suka berguru pada babi.Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah laludibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika didunia.
Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut.Sampailah ruh Aslina
di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan
amalnya yang ada disisinya tak tampak.Tiba-tiba muncul suara orang mengucap : Subnallah,Alhamdulillah danAllahu Akbar. Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya.Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.
Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar Ka’bah. Di
dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya
tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnul khatimah.(Husnul khatimah secara literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan(berbuat) baik,red).
Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan azan seperti azan di Mekkah. Ia pun
mengatakan kepada amalnya.”Saya mau shalat.” Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan ruh Aslina.
”Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,”
ungkap Aslina.
Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina,makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut batangan-batangan emas di dalam tepak “husnul khatimah” itu mengeluarkan cahaya terang.Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina.
”Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud hadapan Allah.”
Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak
sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu.Kumpulan manusia itu berkata. ”Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah.”Manusia-manusia itu juga memohon. ”Tolong kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.”
Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yangdilihat ruhnya saat ia
mati suri. Dalam kesaksiaannya ia senantiasa hadirin yang datang pada pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal shaleh serta tidak melanggar aturan Allah.
Setelah kesaksian Aslina, instruktur Pelatihan ESQ Legisan Sugimin yang
telah mendapat lisensi dari Ary Ginanjar (pengarang buku sekaligus penemu metode Pelatihan ESQ) menjelaskan bahwa fenomena mati suri dan apa yang disaksikan oleh orang yang mati suri pernah diteliti ilmuan Barat.
Legisan mengemukakan pula, mungkin di antara alumni ESQ yang hadir pada Ahad (24/9) malam itu ada yang tidak percaya atau ragu terhadap kesaksian Aslina. Tapi yang jelas, lanjutnya, rata-rata orang yang mati suri merasakan dan melihat hal yang hampir sama.
”Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah kepada kita semua, ” ujarnya.Legisan menjelaskan penelitian oleh Dr Raymond A Moody Jr tentang mati suri.Raymond mengemukakan orang mati suri itu dibawa masuk ke lorong waktu, disana ia melihat rekaman
seluruh apa yang telah ia lakukan selama hidupnya.Dan diakhir pengakuan
orang mati suri itu berkata:”Dan aku ingin agar aku dapat kembali dan
membatalkan semuanya.”
Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang berteriak ingin
dikembalikan ke dunia dan ingin beramal serta penelitian Raymond yang
menyebutkan ”aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya,” Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Mu’muninun (23) ayat 99-100:
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata:”Ya, Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia).”(99). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (100).
Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat,dikutipkan juga Quran Surat
Az-Zumar ayat 39: ”Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah
dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).”
Usai pertemuan alumni itu, Aslina meminta nasehat dari Legisan.Intruktur ESQ itu menyarankan agar Aslina senatiasa berdakwah dan menyampaikan kesaksiaannya saat mati suri kepada masyarakat agar mereka bertaubat dan senantiasa mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Setelah acara, banyak di antara alumni yang bersimpati dan ingin membantu pengobatan sakit gondoknya. Para hadirinpun menyempat diri untuk berfoto bersama Aslina.
Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari kesaksiaan
> Aslina.***
kEtIkA dA’i jAdI paNuTan …
19/03/2009 at 9:15 AM (Artikel)
“ToLong PeSankAn Saya,,teMpaT Di neRakA”
19/03/2009 at 9:11 AM (Artikel)
Sebuah kisah dimusim panas yang menyengat. Seorang kolumnis majalah Al Manar mengisahkannya. ..
Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan akhlak. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa dijaga. Jilbab bisa sebagai multi fungsi.
Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, Cairo-Alexandria; di sebuah mikrobus. Ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat. Karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial. Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan. Bahwa pakaian seperti itu bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya. Disamping pakaian seperti itu juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan.
Tahukah Anda apa respon perempuan muda tersebut? Dengan ketersinggungan yang sangat ia mengekspresikan kemarahannya. Karena merasa privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang. “Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!! Sebuah respon yang sangat frontal. Dan sang bapak pun hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah.
Detik-detik berikutnya suasanapun hening. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpinya. Tak terkecuali perempuan muda itu. Hingga sampailah perjalanan dipenghujung tujuan. Di terminal akhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun. Tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tertidur. Ia berada didekat pintu keluar. “Bangunkan saja!” begitu kira-kira
permintaan para penumpang.
Tahukah apa yang terjadi. Perempuan muda tersebut benar-benar tak bangun lagi. Ia menemui ajalnya. Dan seisi mikrobus tersebut terus beristighfar, menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk disampingnya.
Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.
Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya….
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bias berakhir setiap saat…
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk…
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah…
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya.
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat denganNYA semakin dekat.
Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar… mumpung kesempatan itu masih ada.
nIkmAtnya RasA sAkiT !!!
19/03/2009 at 8:34 AM (Artikel)
Ada yang nonton acara reality show Oprah Winfrey, hari Sabtu 9 Sept
2006 yang lalu di MetroTV ?
Pada acara tersebut ditampilkan seorang gadis mungil berusia 5 tahun,
asal USA, mengenakan kacamata plastik (mirip kacamata renang), lucu,
manis, secara fisik terlihat normal (agak gemuk), dan berperilaku
seperti anak-anak seusianya pada umumnya.
Hanya saja, si gadis kecil ini mengidap suatu penyakit bawaan sejak
lahir yang sangat langka, yaitu tidak memiliki rasa sakit (tidak
memiliki syaraf rasa sakit) di sekujur tubuhnya.
Sejak bayi, si kecil jarang rewel, atau menangis. Hanya terkadang
suhu badannya yang menghangat. Penyakit bawaan yang diderita si kecil
itupun baru diketahui (kalau tidak salah) ketika sang bocah mencolok-
colok matanya karena gatal, dan tidak menangis kesakitan. Hanya saja
darah tetap mengalir keluar. Akibat kejadian tersebut, satu matanya
menjadi buta. Setelah kejadian itu, barulah dikenakan kacamata khusus
untuk melindunginya.
Pernah suatu ketika, ketika gigi si kecil sudah tumbuh, saat kedua
orangtuanya agak lengah, si kecil sedang asyik menggigit-gigit jari
tangannya sendiri hingga hancur. Tentu saja si kecil tidak tetap
tenang karena sama sekali tidak merasakan sakit.
Sebagai pencegahan, akhirnya diputuskan untuk mencabut semua giginya,
tanpa sisa. Terutama sebagai pencegahan agar dia tidak sampai
mengunyah lidahnya sendiri karena akan dianggap sebagai permen karet!!
Karena kejadian-kejadian itulah, si kecil mendapat ‘perhatian dan
pengawasan extra’ dari seluruh anggota keluarganya (kedua orang
tuanya dan sang kakak). Karena dia telah kehilangan sensitifitas akan
adanya bahayabahaya yang bisa menimpanya, hingga kini.
Semoga bermanfaat, dan bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Dan
kita kembali merenungi dan mensyukuri semua nikmat yang telah
diberikan Allah Subhana wata’ala kepada kita serta meyakini bahwa
segala ciptaan dan pemberian Allah Subhana wata’ala adalah tidak sia-
sia. Termasuk rasa sakit yang seringkali kita tidak sabar untuk
menghadapinya.
“Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha
Suci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka”
